© Vincent, 2013-2018; Semarang, Indonesia.  Dokter Tetap Orthopedi & Traumatologi @ SMC (Semarang Medical Center) - RS Telogorejo Semarang.

Dokter Tulang, Sendi & anggota gerak @ Semarang Halaman Muka Tentang Saya Info Kesehatan Kontak/Klinik Konsultasi Patah Tulang (Fraktur)

Patah tulang bukan merupakan cedera yang asing lagi bagi masyarakat di Jawa Tengah maupun di daerah lain di Indonesia.  Sebagian besar patah tulang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas terutama kendaraan roda dua, akan tetapi bukan tidak mungkin patah tulang terjadi akibat kecelakaan kendaraan roda empat, kecelakaan kerja, terjepit pintu, jatuh terpeleset, dan sebagainya.  Patah tulang umumnya disebabkan oleh benturan, akan tetapi tidak selalu benturan tersebut harus keras. Terkadang benturan yang sangat ringan saja dapat menyebabkan suatu patah tulang bila kondisi tulang sebelumnya sudah lemah seperti bila mengidap penyakit kronis tertentu, keganasan, osteoporosis, kelainan bawaan maupun kelainan metabolisme tulang.  Patah tulang yang demikian dikenal dengan patah tulang patologis.

Gejala atau tanda yang menunjukkan kemungkinan adanya suatu patah tulang pada ekstremitas (lengan atau tungkai) antara lain nyeri yang cukup hebat terutama pada penekanan atau bila ekstremitas yang bersangkutan digerakkan.  Selain itu dapat juga tampak suatu pembengkakan hebat yang umumnya disekitar tempat nyeri ataupun perubahan bentuk ekstremitas seperti bengkok ataupun terpuntir.  Beberapa tanda lain diantaranya luka dengan darah yang terus merembes/mengalir, dan pada kondisi ekstrim tampak tulang keluar dari luka.

Penanganan patah tulang gampang2 susah, tetapi kuncinya adalah “jangan panik”.  Di lokasi kejadian yang dapat dilakukan pertama kali adalah pastikan penderita tersebut bernafas, mendapatkan cukup ruang udara (tidak dikerumuni orang) dan posisikan tidur terlentang.   Bila tidak ada luka dengan banyak darah, pasanglah bidai dengan cara: tarik bagian ekstremitas yang lebih ujung dari patah tulang misalnya pergelangan tangan atau pergelangan kaki dengan perlahan dan lembut tetapi cukup kuat, dan posisikan ekstremitas tersebut ke posisi mendekati posisi normal.  Letakkan papan, kardus tebal atau benda lain yang datar dibawahnya sepanjang ekstremitas tersebut.  Gunakan kain/baju untuk menempelkan ekstremitas pada papan tersebut dengan cukup erat tetapi jangan sampai mengikat terlalu kencang.  Bila ada luka dengan banyak darah, sebelum melakukan pembidaian terlebih dahulu tekan luka dengan menggunakan kain/baju lembab untuk mengurangi perdarahan sambil memasang bidai dan pasanglah kain bidai meliputi lokasi luka untuk mempertahankan kain/baju lembab tersebut.  Terakhir, berikan ganjal dibawah bidai setinggi kurang lebih satu bantal untuk meninggikan ekstremitas tersebut supaya bengkak dan perdarahan berkurang.  Tidak disarankan mengikat kencang pangkal ekstremitas karena resiko kematian ekstremitas dan cedera “reperfusi” (cedera akibat kembalinya darah) yang dapat timbul kemudian, kecuali bila perdarahan sangat aktif /hebat hingga darah tergenang banyak dan tidak berkurang dengan penekanan kain pada luka.  Terakhir, antarlah penderita ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut dari dokter IGD dan dokter tulang (ortopedi).

Penanganan awal yang baik dan penanganan lanjut sejak dini umumnya akan memberikan hasil yang lebih baik, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain hindari pemijatan/pengurutan dan jangan tunda penanganan lanjut.  Perlu diingat bahwa pada benturan di ekstremitas, selain tulang juga terdapat struktur jaringan lunak penting seperti pembuluh darah, saraf, dan otot yang ikut cedera.  Manipulasi seperti pemijatan/pengurutan dapat makin merusak jaringan lunak yang sudah cedera tersebut dan dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti pembengkakan hebat, sindroma kompartemen akut, robekan pembuluh darah dan rusaknya saraf.  Penundaan penanganan lanjut dapat berakibat antara lain infeksi, pembusukan yang memerlukan tindakan amputasi, tulang tidak tersambung, penyambungan tulang yang salah, kaku sendi, lemah/pengecilan otot, dan pengeroposan tulang.  Dampak lebih lanjut tentu saja dapat mempengaruhi fungsi lengan/tungkai untuk aktivitas hidup sehari-hari dan gangguan dalam bekerja.

Penanganan medis lanjut patah tulang bertujuan untuk mengkondisikan penyembuhan/ penyambungan tulang seoptimal mungkin dan mengurangi komplikasi akibat patah tulang yang mungkin terjadi.  Beberapa pemeriksaan penunjang sederhana seperti foto ronsen dan laboratorium darah seringkali dilakukan untuk menegakkan diagnosa patah tulang dan mengetahui kondisi penderita, dan hanya pada kasus-kasus tertentu diperlukan pemeriksaan penunjang khusus lain seperti USG, arteriografi, dan CT Scan.  Penanganan patah tulang tidak selalu harus dengan operasi.  Pada kasus patah tulang sederhana, dapat dilakukan pemasangan gips, bidai khusus, mitella, ransel perban, maupun pembersihan dan penjahitan luka di IGD sesuai kebutuhan berdasarkan tingkat keparahan patah tulang.  Pada kasus berat, seperti misalnya:  kondisi luka kotor atau luka luas, patah tulang remuk, patah tulang yang cenderung akan bergeser, patah tulang di dalam sendi, dan patah tulang disertai cedera pembuluh darah atau saraf, barulah dipertimbangkan untuk tindakan operasi. Tindakan operasi seperti pemasangan pen maupun fiksasi eksterna dilakukan bila diperkirakan manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resikonya.  Selain itu pemberian obat-obatan seperti antitetanus, antibiotik, dan obat pereda nyeri juga diberikan tergantung indikasi pada masing-masing kasus.

Vincent, September 2012

“Tulang manusia memiliki kemampuan dasar untuk menyambung (sembuh), hanya perlu dikondisikan secara baik sehingga proses penyambungan tersebut dapat berjalan dan optimal sehingga fungsi lengan/tungkai tetap baik setelah tulang tersambung”

Tehnik sederhana pemasangan bidai (pembidaian)

Hasil ronsen  pada patah tulang remuk dan bergeser